MARI
MENGENAL KEBUDAYAAN SULAWESI BARAT !
Sulawesi Barat adalah Provinsi ke-33 hasil pemekaran dari
Provinsi Sulawesi Selatan yang terbentuk pada 5 Oktober tahun 2004.
Jika bertanya mengenai jumlah kebudayaan yang ada di
Sulawesi Barat, maka jawabannya ialah “banyak”. Sulawesi Barat memiliki
penduduk yang terdiri dari beberapa suku, antara lain Makassar, Bugis, Mandar,
Toraja, Jawa, dan lain-lain. Dengan keberagaman tersebut, otomatis Sulawesi
barat memiliki keberagaman pula akan kebudayaannya. Masing-masing memiliki ciri
khas dan keunikannya tersendiri, mulai dari tarian daerah, pakaian tradisional,
lagu daerah, hingga alat musik tradisionalnya. Namun saat ini, mari kita mengenal
lebih dekat dua kebudayaan unik yang ada di Sulawesi Barat, yaitu Balap
Sandeq dan Tenun Ikat Sekomandi.
Perahu kecil nan tangguh dengan layar yang berbentuk
segitiga dan berwarna putih, ya ! itulah Sandeq. Nama Sandeq itu
sendiri berasal dari bahasa Mandar yang berarti “runcing”. Sandeq merupakan
perahu tradisional milik salah satu suku yang mayoritas berprofesi menjadi
pelaut, yaitu suku Mandar dari Sulawesi Barat. Perahu ini merupakan warisan
leluhur yang dulunya digunakan nelayan sebagai alat untuk mencari ikan dan
sebagai alat transportasi bagi para pedagang.
[sumber:
www.asiaatsea.com]
|
Ciri khas dari perahu unik ini ialah body ramping dan panjang. Berbeda dengan Kapal Pinisi, Sandeq hanya
memiliki satu layar tunggal hampir sebesar perahunya. Panjang Sandeq
bervariasi, sekitar 9-16 meter dan lebarnya mulai dari 0,5-1 meter. Setiap sisi
kanan dan kirinya terdapat cadik dari bambu sebagai penyeimbangnya. Perahu
bertenaga angin ini memang terbilang kecil, tapi jangan tertipu akan
penampilannya. Sandeq bisa dibilang “kecil-kecil
cabe rawit”. Meski dengan tampilan yang tidak sama dengan perahu lainnya, toh Sandeq juga bisa berlayar menerjang
ombak besar dan mengarungi samudera luas menuju benua lain.
[sumber:
www.indonesiamaritimeclub.net]
|
Karena kecepatannya yang tidak dapat dipungkiri, olehnya itu
Sandeq di gunakan sebagai alat transportasi bagi para pedagang pada zaman
dahulu. Para pedagang menyewa kapal-kapal sandeq untuk membawa barang dagangan
mereka ke pasar yang terletak di pesisir pantai. Para pedagang tersebut sangat bergantung
dengan kemampuan para Passandeq (awak Sandeq). Mereka berusaha secepat mungkin
untuk tiba duluan dari pedagang lainnya, sehingga lebih banyak meraup pembeli
di pasar. Itulah yang menjadi awal mula Balapan
Sandeq yang dulunya dinamai “Lomba Pasar”.
Saat sekarang ini, Sandeq banyak digunakan dalam
acara/kegiatan tertentu saja, seperti pada perayaan tahunan 17 Agustus hari
kemerdekaan kita. Kegiatan balapan ini banyak diminati oleh semua kalangan,
dari muda sampai tua. Tidak jarang juga ditemui wisatawan asing yang datang
hanya untuk menyaksikan event
tersebut. Jadi, tidak salah jika perahu tradisional ini dijadikan sebagai ikon
Pariwisata Sulawesi Barat.
2.
Tenun ikat tradisional Sekomandi
Setelah membahas perahu Sandeq yang tangguh itu, nah sekarang kita juga akan membahas
yang tak kalah ketenarannya akan keunikannya. Tidak lain ialah tenun ikat
Sekomandi dari Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Kata
Sekomandi itu sendiri berasal dari bahasa daerah Kalumpang, Seko yang berarti persahabatan dan mandi artinya kekal.
[sumber:
tanalotongmemanggil2014.blogspot.com]
|
Berbicara mengenai keunikan Sekomandi, tidak terlepas dari
bahan dan proses pembuatannya itu sendiri. Tenun tradisional ini terbuat dari
bahan yang unik, yaitu kulit kayu. Namun, pada saat sekarang ini para penenun
sudah menggunakan benang dari kapas yang dipintal sendiri atau dibeli. Bahan
pewarnaannya pun dari alam. Siapa bilang kalau bumbu dapur itu hanya digunakan
sebagai bahan masakan di dapur saja? Tidak ! Proses pembuatan kain Sekomandi
sebagian besar menggunakan bahan-bahan dapur seperti cabe merah, lengkuas,
kemiri, dan kluwak atau yang sering disebut pucung. Unik bukan? Cabe digunakan
agar pewarnaannya bagus dan membuatnya lebih awet, kemiri digunakan untuk
meratakan bahan pewarna, lengkuas digunakan karena baunya tidak disukai
serangga, sedangkan kluwak digunakan sebagai pengawet benang. Bahan pewarna
Sekomandi itu sendri terdiri dari akar pohon mengkudu (warna merah), tanah
liat, dan daun indigo atau tarum (warna biru). Dari pewarna-pewarna itu
terciptalah tenun Sekomandi yang berwarna dasar hitam dengan motif yang
berwarna merah, cokelat, dan krem. Proses pembuatan tenun ikat ini meliputi 3
proses, yaitu pemintalan, pewarnaan, hingga penenunan.
Keunikan kain tenun Sekomandi tidak hanya karena proses
pembuatannya, tetapi juga unik pada motif, diantaranya motif ulu karua kaselle, ulu karua barinni, tobo alang, pori
totandung, pori tanoling, pori setutu’, rundung lolo, maupun leleq sepu. Motif-motif tersebut bukanlah sembarang
motif, melainkan memiliki arti dan makna tersendiri. Pembuatan Sekomandi
dilakukan dengan tangan dan menggunakan alat tenun tradisional, jadi paling
tidak membutuhkan waktu berminggu-minggu maupun berbulan-bulan sesuai dengan
ukuran yang diinginkan. Itu juga yang menyebabkan kain tenun ini dibandrol
dengan harga yang tidak murah, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Sekomandi sangat laris terjual di tempat pariwisata Tana
Toraja Sulawesi Selatan, jadi banyak yang mengatakan bahwa kain Sekomandi ini
berasal dari Toraja, padahal bukan. Itu semua karena pemasaran Sekomandi masih
sangat kurang di daerah asalnya. Dengan corak warna yang unik seperti merah
tua, biru legam, hitam, dan putih kekuningan, Sekomandi banyak menarik
perhatian para pelancong lokal maupun asing untuk membelinya sebagai buah
tangan.
Setelah membaca kedua kebudayaan unik tersebut, tidakkah
timbul rasa ingin menjaga warisan budaya leluhur kita? Hal yang selalu menjadi
masalah bagi setiap daerah ialah bagaimana menjaga eksistensi akan kebudayaan
luhurnya di era globalisasi. Bukan hanya kebudayaan saja, sudah sepatutnya kita
menjaga kekayaan alam, wisata, maupun kearifan lokal di daerah kita. Kesadaran
seperti itu haruslah selalu ada dalam diri kita selaku pemuda penerus bangsa
demi terlindungnya warisan leluhur kita, sehingga anak cucu kita dimasa
mendatang masih bisa melihat dan merasakan keunikan dan kekayaan Indonesia.
Referensi:
https://wisatasulawesi.wordpress.com/wisata-sulawesi-barat/perahu-sandeq/
http://www.suarapilardemokrasi.com/2014/12/mengenali-untuk-kemudian-mencintai-tana.html




Tidak ada komentar:
Posting Komentar