Selasa, 08 September 2015

Dua Kebudayaan Unik Sulawesi Barat

 MARI MENGENAL KEBUDAYAAN SULAWESI BARAT !

Sulawesi Barat adalah Provinsi ke-33 hasil pemekaran dari Provinsi Sulawesi Selatan yang terbentuk pada 5 Oktober tahun 2004.

Jika bertanya mengenai jumlah kebudayaan yang ada di Sulawesi Barat, maka jawabannya ialah “banyak”. Sulawesi Barat memiliki penduduk yang terdiri dari beberapa suku, antara lain Makassar, Bugis, Mandar, Toraja, Jawa, dan lain-lain. Dengan keberagaman tersebut, otomatis Sulawesi barat memiliki keberagaman pula akan kebudayaannya. Masing-masing memiliki ciri khas dan keunikannya tersendiri, mulai dari tarian daerah, pakaian tradisional, lagu daerah, hingga alat musik tradisionalnya. Namun saat ini, mari kita mengenal lebih dekat dua kebudayaan unik yang ada di Sulawesi Barat, yaitu Balap Sandeq dan Tenun Ikat Sekomandi.

1. Si kecil yang tangguh
Perahu kecil nan tangguh dengan layar yang berbentuk segitiga dan berwarna putih, ya !  itulah Sandeq. Nama Sandeq itu sendiri berasal dari bahasa Mandar yang berarti “runcing”. Sandeq merupakan perahu tradisional milik salah satu suku yang mayoritas berprofesi menjadi pelaut, yaitu suku Mandar dari Sulawesi Barat. Perahu ini merupakan warisan leluhur yang dulunya digunakan nelayan sebagai alat untuk mencari ikan dan sebagai alat transportasi bagi para pedagang.
                                                        [sumber: www.asiaatsea.com]

Ciri khas dari perahu unik ini ialah body ramping dan panjang. Berbeda dengan Kapal Pinisi, Sandeq hanya memiliki satu layar tunggal hampir sebesar perahunya. Panjang Sandeq bervariasi, sekitar 9-16 meter dan lebarnya mulai dari 0,5-1 meter. Setiap sisi kanan dan kirinya terdapat cadik dari bambu sebagai penyeimbangnya. Perahu bertenaga angin ini memang terbilang kecil, tapi jangan tertipu akan penampilannya. Sandeq bisa dibilang “kecil-kecil cabe rawit”. Meski dengan tampilan yang tidak sama dengan perahu lainnya, toh Sandeq juga bisa berlayar menerjang ombak besar dan mengarungi samudera luas menuju benua lain.
                                                   [sumber: www.indonesiamaritimeclub.net]


Karena kecepatannya yang tidak dapat dipungkiri, olehnya itu Sandeq di gunakan sebagai alat transportasi bagi para pedagang pada zaman dahulu. Para pedagang menyewa kapal-kapal sandeq untuk membawa barang dagangan mereka ke pasar yang terletak di pesisir pantai. Para pedagang tersebut sangat bergantung dengan kemampuan para Passandeq (awak Sandeq). Mereka berusaha secepat mungkin untuk tiba duluan dari pedagang lainnya, sehingga lebih banyak meraup pembeli di pasar. Itulah yang menjadi awal mula Balapan Sandeq yang dulunya dinamai “Lomba Pasar”.
Saat sekarang ini, Sandeq banyak digunakan dalam acara/kegiatan tertentu saja, seperti pada perayaan tahunan 17 Agustus hari kemerdekaan kita. Kegiatan balapan ini banyak diminati oleh semua kalangan, dari muda sampai tua. Tidak jarang juga ditemui wisatawan asing yang datang hanya untuk menyaksikan event tersebut. Jadi, tidak salah jika perahu tradisional ini dijadikan sebagai ikon Pariwisata Sulawesi Barat.

2. Tenun ikat tradisional Sekomandi
Setelah membahas perahu Sandeq yang tangguh itu, nah sekarang kita juga akan membahas yang tak kalah ketenarannya akan keunikannya. Tidak lain ialah tenun ikat Sekomandi dari Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Kata Sekomandi itu sendiri berasal dari bahasa daerah Kalumpang, Seko yang berarti persahabatan dan mandi artinya kekal.

                                   [sumber: tanalotongmemanggil2014.blogspot.com]


Berbicara mengenai keunikan Sekomandi, tidak terlepas dari bahan dan proses pembuatannya itu sendiri. Tenun tradisional ini terbuat dari bahan yang unik, yaitu kulit kayu. Namun, pada saat sekarang ini para penenun sudah menggunakan benang dari kapas yang dipintal sendiri atau dibeli. Bahan pewarnaannya pun dari alam. Siapa bilang kalau bumbu dapur itu hanya digunakan sebagai bahan masakan di dapur saja? Tidak ! Proses pembuatan kain Sekomandi sebagian besar menggunakan bahan-bahan dapur seperti cabe merah, lengkuas, kemiri, dan kluwak atau yang sering disebut pucung. Unik bukan? Cabe digunakan agar pewarnaannya bagus dan membuatnya lebih awet, kemiri digunakan untuk meratakan bahan pewarna, lengkuas digunakan karena baunya tidak disukai serangga, sedangkan kluwak digunakan sebagai pengawet benang. Bahan pewarna Sekomandi itu sendri terdiri dari akar pohon mengkudu (warna merah), tanah liat, dan daun indigo atau tarum (warna biru). Dari pewarna-pewarna itu terciptalah tenun Sekomandi yang berwarna dasar hitam dengan motif yang berwarna merah, cokelat, dan krem. Proses pembuatan tenun ikat ini meliputi 3 proses, yaitu pemintalan, pewarnaan, hingga penenunan.
                                       [sumber: wartawargasulbar.blogspot.com]

Keunikan kain tenun Sekomandi tidak hanya karena proses pembuatannya, tetapi juga unik pada motif, diantaranya motif ulu karua kaselle, ulu karua barinni, tobo alang, pori totandung, pori tanoling, pori setutu’, rundung lolo, maupun leleq sepu. Motif-motif tersebut bukanlah sembarang motif, melainkan memiliki arti dan makna tersendiri. Pembuatan Sekomandi dilakukan dengan tangan dan menggunakan alat tenun tradisional, jadi paling tidak membutuhkan waktu berminggu-minggu maupun berbulan-bulan sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Itu juga yang menyebabkan kain tenun ini dibandrol dengan harga yang tidak murah, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Sekomandi sangat laris terjual di tempat pariwisata Tana Toraja Sulawesi Selatan, jadi banyak yang mengatakan bahwa kain Sekomandi ini berasal dari Toraja, padahal bukan. Itu semua karena pemasaran Sekomandi masih sangat kurang di daerah asalnya. Dengan corak warna yang unik seperti merah tua, biru legam, hitam, dan putih kekuningan, Sekomandi banyak menarik perhatian para pelancong lokal maupun asing untuk membelinya sebagai buah tangan.

Setelah membaca kedua kebudayaan unik tersebut, tidakkah timbul rasa ingin menjaga warisan budaya leluhur kita? Hal yang selalu menjadi masalah bagi setiap daerah ialah bagaimana menjaga eksistensi akan kebudayaan luhurnya di era globalisasi. Bukan hanya kebudayaan saja, sudah sepatutnya kita menjaga kekayaan alam, wisata, maupun kearifan lokal di daerah kita. Kesadaran seperti itu haruslah selalu ada dalam diri kita selaku pemuda penerus bangsa demi terlindungnya warisan leluhur kita, sehingga anak cucu kita dimasa mendatang masih bisa melihat dan merasakan keunikan dan kekayaan Indonesia.




Referensi:
https://wisatasulawesi.wordpress.com/wisata-sulawesi-barat/perahu-sandeq/
http://www.suarapilardemokrasi.com/2014/12/mengenali-untuk-kemudian-mencintai-tana.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar